Adat Tradisi Ojung Masyarakat Jawa Timur yang Kaya Nilai Luhur

Merdeka. com kepala Kedua peserta Ojung berlomba saling memukul tubuh lawan secara rotan. Mulanya Tradisi Ojung berasal dari Sumenep, hingga menyebar ke Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi , Surabaya , Malang , hingga Lumajang. Pertarungan dengan dilakukan dua orang pria dianggap sebagai permohonan. Namun mereka percaya, luka dan darah yang mengalir yaitu wujud kesungguhan yang nyata dalam meminta hujan. Terlepas itu, nilai spiritual serta kekeluargaan tertanam dalam pertunjukan Ojung.

Sejak lama masyarakat Pulau Jawa identik dengan komoditas pertanian. Berada dalam lingkup negeri menumbuhkan kepercayaan, tradisi maupun ritual. Salah satunya era musim kemarau panjang tiba. Ajaran turun temurun bersifat ritual meminta hujan kerap dilaksanakan. Beda daerah asing pula prosesinya, salah satunya di Sumenep, Jawa Timur. Masyarakatnya biasa melakukan tradisi Ojung atau Ojhung, saling beradu pukul rotan dalam arena pertunjukan.

Meskipun mengandung unsur kebengisan, tradisi Ojung tetap dijalankan. Pasalnya, perkembangan zaman semakin lama menggeser keberadaan Ojung yang nyaris punah.

tradisi ojung bondowoso

©2021 Merdeka. com/Eko Andi

Jika telah menemukan lawan berduel, sang wasit akan memberikan suruhan. Kedua pemain saling mengambil dan menghindari pukulan. Mulia kali pertandingan berlangsung 5 hingga 7 menit. Makin ada pemain yang berharta melakukan Ojung lebih sebab satu ronde. Dia dengan menang apabila telah mengantongi jumlah pukulan lebih dari lawan. Selain itu, jatuhnya rotan lawan juga menandakan permainan berakhir.

Musik tradisional Okol dan Kidungan mengiringi jalannya tradisi Ojung. Sorak-sorak penonton menaikkan keseruan jalannya Ojung. Tertib pemenang maupun pihak dengan kalah akan saling memaafkan. Digambarkan pemain Ojung tempat seorang kesatria. Di daerah pertandingan mereka bertempur, tetapi selepasnya, nilai persahabatan selalu ada pada posisi sempurna.

tradisi ojung bondowoso

©2021 Merdeka. com/Eko Andi

Para pemain Ojung bukanlah pria sembarangan. Mereka harus jantan dan gesit dalam mengangkat rotan. Rotan diibaratkan jadi pedang, sebanyak mungkin diayunkan untuk mengenai tubuh melayani. Tak hanya itu, ketekunan beradu rotan harus dijauhkan dari sifat pemarah & balas dendam. Kedua temperamen buruk ini akan menodai kemurnian tradisi Ojung dengan telah ada berabad-abad lamanya.

Konon konvensi Ojung berkembang pada masa ke-13 di Pulau Madura yang tak lepas sebab Leluhur mereka Raden Imam Asy’ari. Dialah sang murid Sunan Kalijaga yang turut menyebarkan agama Islam dalam Madura. Selain itu, pengoperasian tradisi Ojung merupakan medan mengenang perjuangan Raden Imam Asy’ari. Kala itu Ojung digelar di tanah lapang yang diikuti oleh para-para pemudanya.

tradisi ojung bondowoso

©2021 Langgas. com/Eko Andi

Rotan yang digunakan mempunyai panjang 1 meter, karakteristik kayu rotan yang lemah dan kokoh. Jika tersentuh pukulannya tak hanya luka memar yang ditinggalkan, tajamnya rotan mampu membelah indra peraba lawan. Tak bisa dielakkan, darah segar akan keluar dan menetes saat pertandingan.

Seorang wasit yang dijuluki Peputo bakal mengatur jalannya pertarungan. Ia akan menjaga permainan supaya tetap sportif tanpa membuat dendam. Keberadan penonton terkadang menjadi provokator kericuhan bila jago mereka dikalahkan melayani.

tradisi ojung bondowoso

©2021 Merdeka. com/Eko Andi

Remaja, hingga tua berusia 17 hingga 50 tahun diperkenankan bertanding dalam tradisi Ojung. Biasanya para pemain memilah lawan duel mereka di balik arena. Jika berlaku kesepakatan, maka mereka harus mendaftarkan diri ke pengatur acara Ojung.

Hingga kini keseruan Ojung tetap dilestarikan pada tradisi meminta hujan. Warisan budaya dari Madura itu dianggap sakral yang mampu menghindarkan diri dan umum dari musibah dan kesengsaraan. Terlepas itu, nilai kekeluargaan, sportivitas, dan kebersamaan menjelma nilai utama yang tetap dijunjung tinggi. [Ibr]