Benny Tjokro dan Heru Hidayat Wasit Vonis Korupsi Jiwasraya Hari Tersebut

Merdeka. com kacau Dua terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yakni Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram) Heru Hidayat, akan menjalani sesi vonis hari ini, Senin (26/10). Majelis hakim akan memutus balasan terkait kasus korupsi dan Aksi Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta , Jakarta Pusat.

Kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sendiri sudah memasuki babak baru. Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut hukuman penjara seumur hidup bagi dua terdakwa kasus korupsi.

Pengajian tuntutan dilakukan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis 15 Oktober 2020. Keduanya adalah Eksekutif Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro dan Komisaris Pati PT Trada Alam Minera Heru Hidayat.

Mereka dinilai terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian kekayaan (TPPU) atas kasus pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya.

Selain pidana pokok, JPU juga menggugurkan pidana tambahan berupa kewajiban memenuhi uang pengganti, yakni senilai Rp 6. 078. 500. 000. 000, 00 untuk pemilik PT Hanson dan Rp 10. 728. 783. 375. 000 untuk Heru Hidayat.

Apabila dalam utama bulan kedua terdakwa tidak piawai membayar, maka harta benda bakal disita dan dilelang oleh negara sebagai uang pengganti.

“Jika terdakwa dinyatakan bersalah dan dihukum pidana selain pidana seumur hidup atau mati dan terpidana tidak mempunyai harta yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, oleh sebab itu akan diganti dengan pidana tangsi selama 10 tahun, ” kata jaksa.

Sebelumnya, elok hakim Pengadilan Tipikor juga sudah menjatuhkan vonis seumur hidup pada tiga mantan direksi PT Asuransi Jiwasraya.

Mereka merupakan mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo, dan mantan Kepala Bagian Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan.

Ke-3 mantan petinggi perusahaan asuransi pelah lidah merah itu dinilai terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Mereka terbukti melakukan manipulasi sebesar Rp 16, 8 triliun.

“Mengadili, menyatakan tersangka terbukti secara sah dan menetapkan bersalah melakukan tindak pidana manipulasi yang dilakukan secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan primer, ” kata pendahuluan Ketua Majelis Hakim Susanti di amar putusannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin malam, 12 Oktober 2020.

“Menjatuhkan kejahatan terhadap terdakwa tersebut dengan hukuman pidana penjara seumur hidup, ” ucap Susanti melanjutkan.

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor memperhitungkan ketiga terdakwa tidak mendukung rencana pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negeri yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Perbuatan itu juga dianggap berimplikasi pada kesulitan ekonomi terhadap para peserta PT Asuransi Jiwasraya.

Sementara hal yang meringankan adalah para-para terdakwa dianggap bersikap sopan dan kooperatif dalam persidangan, dan belum pernah dihukum.

Ketentuan terhadap Hary Prasetyo sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum, yaitu seumur hidup. Namun dalam ketentuan, hakim tak menjatuhkan denda kaya tuntutan jaksa yakni Rp satu miliar subsider 6 bulan kurungan.

Sementara vonis kepada Hendrisman dan Syahmirwan lebih berat dari tuntutan. Jaksa menuntut Hendrisman pidana penjara selama 20 tarikh denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan, sedangkan tuntutan terhadap Syahmirwan yakni pidana 18 tahun penjara denda Rp satu miliar subsider 6 bulan.

Satu nama lainnya dengan divonis hukuman seumur hidup merupakan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto

Indah Hakim Pengadilan Tipikor menyatakan Joko Hartono terbukti bersalah melakukan aksi pidana korupsi dan memperkaya diri bersama-sama dengan tiga mantan penguasa PT Asuransi Jiwasraya senilai Rp 16, 8 triliun.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Joko Hartono Tirto terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama, ” ujat Ketua Majelis Hakim Rosmina dalam amar putusannya, Senin, 12 Oktober.

“Menjatuhkan pidana kepada tersangka Joko Hartono Tirto dengan kejahatan penjara seumur hidup, ” kata pendahuluan Rosmina menambahkan.

Rosmina menyebut, hal yang memberatkan vonis yakni perbuatan Joko dinilai menimbulkan kerugian masyarakat banyak. Joko juga dinilai menggunakan cara licik karena mendekati Hary Prasetyo. Sementara kejadian meringankan, Joko berlaku sopan dalam persidangan.

Hakim mengutarakan Joko Hartono telah menerima kekayaan sebesar Rp 2 miliar pada perkara ini. Uang ini dikasih oleh Komisaris PT Trada Zona Minera Heru Hidayat dan Direktur PT Himalaya Energi Perkasa Piter Rasiman secara bertahap.

Joko terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) Peraturan No 31 Tahun 1999 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana sudah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan tempat Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Reporter: Fachrur Rozie

Sumber: Liputan6. com [eko]