Kemenkes Jelaskan Beda Penanganan Pasien Covid-19 Berdasarkan Gejala

Merdeka. com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan kalau penanganan setiap pasien yang terkonfirmasi Covid-19 berbeda-beda sesuai dengan gejala yang dialami. Hal itu karena ada pasien tidak bergejala, isyarat ringan, sedang, hinga gejala mengandung.

“Penanganan pasien yang konfirmasi positif Covid-19 ini berdasarkan gejala berat atau ringan. Tidak semua pasien pelayanannya sama, ” kata Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan tubuh Kemenkes Abdul Kadir dikutip dibanding siaran persnya, Minggu (18/10).

Dia menjelaskan bahwa lazimnya pasien positif Covid-19 yang tidak bergejala akan diimbau untuk isolasi mandiri di rumah atau di Rumah Sakit (RS) Darurat. Isolasi minimal 10 hari sejak ditegakkan diagnosis. Setelah isolasi 10 hari maka pasien dinyatakan selesai isolasi.

Untuk pasien membangun corona dengan gejala sakit ringan-sedang, diimbau untuk isolasi mandiri di rumah, RS Darurat, Rumah Melempem, atau RS Rujukan Covid-19. Taat Kadir, pasien gejala ringan-sedang harus menjalani isolasi minimal 10 keadaan sejak munculnya gejala.

“Ditambah 3 hari bebas demam dan gejala pernapasan. Setelah itu pasien dinyatakan selesai isolasi, ” ucapnya.

Sementara tersebut, bagi pasien positif Covid-19 dengan gejala sakit berat akan diisolasi di rumah sakit atau vila sakit rujukan. Pasien diisolasi sedikitnya 10 hari sejak muncul fakta ditambah 3 hari bebas hangat dan gejala pernapasan.

“Pasien akan dilakukan lagi tes swab jika hasilnya negatif maka pasien akan dinyatakan sembuh, ” jelas Kadir.

Tempat mengatakan pelayanan pasien positif corona, terdapat layanan alih rawat non isolasi. Layanan tersebut diperuntukkan bagi pasien yang sudah memenuhi etika selesai isolasi, namun masih memerlukan perawatan lanjutan untuk kondisi tertentu yang terkait dengan komorbid, co-insiden, dan komplikasi.

“Proses alih rawat diputuskan berdasarkan buatan assessment klinis yang dilakukan sebab dokter penanggungjawab pelayanan sesuai penopang pelayanan atau standar prosedur operasional, ” tutur Kadir.

Adapun untuk pasien yang diisolasi di rumah sakit, RS Darurat, maupun di RS Rujukan Covid-19 dapat dipulangkan berdasarkan pertimbangan dokter penanggungjawab pasien. Hal ini karena adanya perbaikan klinis, comorbid teratasi, dan/atau follow up PCR menduduki hasil.

Pasien konfirmasi tanpa gejala, gejala ringan, fakta sedang, dan gejala berat/kritis dinyatakan sembuh apabila telah memenuhi etika selesai isolasi.

Kadir menyampaikan hal tersebut berupa tulisan pernyataan selesai pemantauan, berdasarkan penilaian dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tubuh tempat dilakukan pemantauan atau sebab dokter penanggungjawab pasien.

“Pasien konfirmasi dengan gejala mengandung dimungkinkan memiliki hasil pemeriksaan follow up RT-PCR positif, karena penjagaan RT-PCR masih dapat mendeteksi arah tubuh virus Covid-19 walaupun virus sudah tidak aktif lagi (tidak menularkan lagi), ” ujarnya.

“Terhadap pasien tersebut, oleh sebab itu penentuan sembuh berdasarkan hasil assessmen yang dilakukan oleh dokter penanggungjawab pasien, ” sambung Kadir.

Reporter: Lizsa Egeham
Sumber: Liputan6. com, [eko]