Mengunjungi PLTB Tolo Jeneponto, Terbesar Kedua di Indonesia

Mandiri. com –
Zaman ini listrik merupakan keinginan pokok bagi masyarakat. Berbagai macam pembangkit listrik didirikan. Indonesia sendiri pembangkit listriknya sedang didominasi dengan PLTU. Tenaga uap masih menghasilkan polutan yang berbahaya. Namun terobosan demi terobosan dihadirkan. Lupa satunya Pembangkit Listrik Gaya Bayu (PLTB) di Kampung Karumpang Loe, Kecamatan Arungkeke, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Minus menghasilkan polutan, sumber utamanya ialah bayu atau jalan.

Suasana sejuk kala mendung di kolong PLTB Tolo Jeneponto dasar mengasyikkan. Panoramanya tak tersedia duanya, berada di kurun ratusan hektare sawah warga. Kala musim tumbuh padi, hijaunya membentang sejauh lupa memandang. Angin di arah ternyata mampu mendorong kincir angin PLTB. Sedangkan di kolong, angin berasa sepoi-sepoi menenteramkan jelang sore hari.

Ada 20 turbin menara pembangkit listrik pada PLTB Jeneponto. Menjadikannya PLTB terbesar kedua di Indonesia setelah PLTB Sidrap.

mengunjungi pltb tolo jeneponto

©2021 Merdeka. com/Andi Imran Fajar

Tingginya menara membuat pembangkit listrik ini dapat dilihat lantaran kejauhan. Tiang tinggi putih menjulang 135 meter. Dibanding kejauhan memang terlihat kecil, jika didekati diameternya 5. 4 meter. Sedahgkan diameter atasnya 3. 4 meter, cukup untuk dipanjat ke atas oleh teknisi. Namun para wisatawan tidak diperkenankan dekat-dekat dengan PLTB. Cukup dari kejauhan, kemegahan pembangkit listrik bisa kamu mendatangkan.

Waktu dengan tepat untuk mengunjungi PLTB adalah saat musim lahir padi. Saat itu, padi mulai tumbuh dan menyingkirkan klorofilnya. Hijau teduh menyenangkan, memberikan landscape yang menyepuk. Namun tak ada salahnya jika berkunjung saat pari mulai menguning. Akan tersedia variasi panorama yang hendak kamu dapatkan. Jika perut, hanya sebagian petani yang menanam padi.

mengunjungi pltb tolo jeneponto

©2021 Merdeka. com/Andi Imran Fajar

Panorama PLTB Jeneponto ternyata tak roboh dengan keindahan pembangkit listrik tenaga angin di Eropa. Siapa saja bisa mengunjungi PLTB Tolo Jeneponto, dan tentunya gratis. Tak tersedia tarif yang berlaku dalam tempat indah nan unik ini. Pengunjung hanya perlu berhati-hati jika sewaktu-waktu pegari angin yang berhembus cepat.

Berswafoto menjadi tujuan pengunjung datak ke PLTB Tolo Jeneponto. Selain itu mereka penasaran dengan teknologi turbin raksasa pada PLTB. Berpose dengan situasi hijaunya sawah dan jentera angin raksasa. Para pecinta landscape tentunya tak boleh melewatkan memfoto panorama menarik PLTB Tolo Jeneponto.

mengunjungi pltb tolo jeneponto

©2021 Merdeka. com/Andi Imran Fajar

Kincir angin raksasa berputar di ketinggian. Diameter turbinnya 63 meter. Sangat pantas untuk disebut sebagai Kincir angin manusia besar. Di belakangnya terdapat mesin rotor, gearbox dan generator. Jika dibandingkan, mesin dalam belakang kincir ukuranya sebanding dengan 20 city car yang ditumpuk sejajar, benar besar. Sedangkan panjang utama baling-balingnya setara dengan 3 tuk kontainer.

Kincir raksasa ini berkecukupan mengubah Energi kinetik menjelma Energi listrik. Listrik dengan dihasilkan kemudian terkoneksi dengan gardu induk 150 Kv di Jeneponto. Listrik dengan dihasilkan ialah 72 Mega Watt (MW), terbesar kedua setelah PLTB Sidrap yaitu 75 MW. Sangat cukup untuk kebutuhan Listrik di Provinsi Sulawesi Selatan.

mengunjungi pltb tolo jeneponto

©2021 Merdeka. com/Andi Imran Fajar

PLTB Tolo Jeneponto dibangun di dalam tahun 2018. Pertengahan tahun telah selesai dan mulai beroperasi. Pembangunan PLTB Jeneponto merupakan lanjutan proyek penyemangat listrik tenaga angin prima PLTB Sidrap. Tepatnya di Kabupaten Sidenreng Rappang 262 kilometer dari Jeneponto. PLTB Tolo Jeneponto jaraknya 3 jam perjalanan darat bila ditempuh dari Kota Makassar .

Keunikan PLTB Tolo Jeneponto ternyata mampu menjadikan perhatian wisatawan. Tak jarang mereka kagum dengan teknologi yang ramah lingkungan yang menghasilkan listrik besar. Saat ini kebutuhan listrik dalam Sulawesi Selatan mencapai satu. 050 MW, sedangkan elektrik yang tersedia 1. 300 MW. Surplus listririk diharapkan menjadi penunjang peningkatan perekonomian di Sulawesi Selatan. [Ibr]