Sekjen PAN Sebut Belum Ada Celoteh Soal Reshuffle Kabinet

Merdeka. com – Sekjen PAN Eddy Soeparno mengungkapkan, bahwa saat ini belum ada obrolan di internal partainya mengenai reshuffle kabinet dan peluang PAN bakal di ajak berpadu ke pemerintah. Dia bilang, PAN saat ini fokus bantu mengatasi Covid-19.

“Belum ada (obrolan reshuffle dan gabung kabinet). PAN sampai sekarang masih pokok untuk penanganan Covid-19 di Dapil-Dapil, di mana kita meminta bagian DPR untuk turun secara mendalam dan intens untuk menangani masyarakat yang terkena dampak Covid-19, khususnya mereka-mereka yang terdampak ekonomi, ” kata Eddy, Jumat (3/7).

Eddy enggan menjawab masa PAN mau bergabung jika diajak Presiden Jokowi masuk kabinet. Dia bilang, ranah tersebut biar menjadi kesimpulan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

“Yang bisa menjawab tersebut, yang kompeten menjawab itu ialah Ketua Umum. Dan saya kira biarkanlah jawaban tersebut ada dalam tangan Ketum, apakah PAN terkuak untuk menerima tawaran Presiden kalau memang hal itu terjadi, ” ucapnya.

Tetapi, sendat dia, pada prinsipnya untuk hal-hal yang sifatnya positif, kebaikan, & kebijakan-kebijakan yang bisa menunjang kesejahteraan rakyat PAN pasti mendukung. Apalagi sekarang dalam kondisi Covid-19 pada mana perekonomian rakyat itu terpuruk.

“Ya untuk hal-hal yang bisa membangkitkan perekonomian serta kesejahteraan rakyat tentu PAN bakal mendukung (pemerintah), ” ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi hati, jengkel, melihat kinerja menteri dalam kabinetnya. Jokowi belum melihat para menteri bekerja ekstra. Padahal, situasi sedang sulit, krisis, akibat pandemi Covid-19. Kemarahan itu dilakukan dalam rapat kabinet 18 Juni berantakan.

Orang nomor satu di RI ini bahkan datang mengeluarkan ancaman bakal mengganti, alias reshuffle menteri yang dianggap berlaku tak sesuai ekspektasi. Bukan saja itu, Jokowi rela kehilangan nama baik politik demi 267 rakyat Indonesia yang kini kondisi sedang sulit.

“Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita. Untuk negara. Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya, ” perkataan Jokowi dalam video dari Sekretariat Presiden, Minggu (28/6).

Jokowi meminta para menterinya lebih bekerja keras menghadapi krisis tersebut. Menurut dia, saat ini bukan sedang situasi normal yang hanya beroperasi seperti biasa.

“Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal, ” jelas Jokowi.

Akan kemarahan tersebut, sejumlah kinerja menteri pun menjadi sorotan. Baik oleh partai politik pendukung pemerintah maupun para analis politik. [gil]