Survei: PSBB Tidak Layak Dilonggarkan

Merdeka. com – Survei dengan responden kalangan elite/pemuka opini Indikator Kebijakan Indonesia memperlihatkan bahwa kebijakan Penyekatan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak layak untuk dilonggarkan di provinsi yang banyak kasus corona.

Sebanyak 60, 9 persen responden menilai kurang layak ataupun tidak layak sama sekali PSBB dilonggarkan. Sebanyak 37, 8 komisi menilai cukup layak atau betul layak.

“Mayoritas memperhitungkan pelonggaran PSBB masih kurang atau tidak layak sama sekali, ” ujar Direktur Eksekutif Indikator Kebijakan Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat terbit survei secara daring, Kamis (20/8).

Hal itu serupa sebanding dengan penilaian kalangan elite terhadap efektivitas PSBB menekan penyebaran virus corona. Sebanyak 55, 2 persen menyatakan cukup efektif atau sangat efektif. Sedangkan 44, 1 persen menyatakan kurang efektif atau tidak efektif sama sekali.

Dijelaskan Burhanuddin, Sumatera Barat, DKI Jakarta , dan Jawa Barat mendapatkan skor lebih tinggi atas pelaksanaan PSBB. Berikut urutan penilaian elite terhadap pelaksanaan PSBB di beberapa daerah; Sumbar (67 persen), DKI Jakarta (66, 3 persen), Jawa Barat (66, 3 persen) Jawa Tengah (65, 8 persen), Riau (62, 3 persen), Sumsel (60, 3 persen), Banten (60, 1 persen), Papua (59, 8 persen), Sulsel (56, 2 persen), Jawa Timur (53, 9 persen).

Kalangan elite ini juga menilai penyebaran virus corona kurang ataupun tidak terkendali sedikit pun. Sebanyak 64, 4 persen menyatakan demikian. Sisanya, menyatakan sudah cukup terkendali. 3 wilayah yang dinilai baik dalam mengendalikan penyebaran Covid-19 adalah Sesumbar (66, 1 persen), Jabar (65, 7 persen), dan DKI Jakarta (65, 6 persen).

Survei kalangan elite/pemuka opini ini dilakukan Juli 2020. Survei itu mengambil responden 304 orang dari 20 kota di Indonesia. Mereka berlatar belakang akademisi, redaktur politik dan kesehatan media, pengusaha, pengamat kesehatan, sosial, dan politik, tipu organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, LSM, dan organisasi profesi. Beberapa tipu misalnya Rektor ITB, Rektor UGM, Dahlan Iskan, Imam Besar Langgar Istiqlal Nasaruddin Umar, Mustofa Bisri, Dokter Erlina Burhan, dan lain-lain. [ded]