Tahu Pelestarian 2 Anak Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon

Merdeka. com semrawut Baru-baru itu masyarakat Indonesia mendapat kabar bahagia berupa terdeteksinya sepasang anak Warak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Temuan ini didapat daripada kamera pengintai yang dipasang untuk memonitor hewan yang dilindungi itu.

Tentu saja kabar gembira ini tidak terlepas sebab upaya-upaya yang telah dilakukan sebab beberapa pihak yang menjaga serta memantau populasi Badak Jawa pada Ujung Kulon. Balai Taman Nasional Ujung Kulon merupakan salah utama pihak yang kerap melakukan cara pelestarian hewan langka ini.

Lantas bagaimana upaya-upaya yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk menjaga kelestarian Badak Jawa yang jumlahnya masa ini hanya 74 ekor pada seluruh dunia?

Pemimpin Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Anggodo berbagi informasi terkait jalan dilakukan pihaknya untuk melestarikan hewan yang terkenal akan culanya itu. Upaya pertama yang disebutkan sebab Anggado adalah upaya perlindungan Warak Jawa yang dilakukan oleh awak Rhino Protecting Unit (RPU).

Tim tersebut dibentuk oleh Balai TNUK bersama dengan Yayasan Badak Indonesia dan bertugas untuk melakukan patroli serta melindungi keselamatan badak yang ada di TNUK. Selain tim untuk melindungi badak, ada juga tim Rhino Monitoring Unit (RMU) yang bertugas buat melakukan monitoring dengan kamera trap pada Badak Jawa.

“Monitoring itu penting. Jadi kita tahu badak ini bertambah atau badak ini ada yang luka itu dari kegiatan teman-teman RMU ini. RMU ini juga melibatkan masyarakat kurang lebih masyarakat (yang) dilibatkan sekitar 25 orang masyarakat, ” kata Anggodo dalam webinar bertajuk “World Rhino Day: Apa Kabar Badak Jawa? ” yang dilaksanakan pada Hari Badak Sedunia 2020, ” di Jakarta , Selasa (22/9).

Selain memuat tim untuk melindungi dan mengawasi badak, Anggado dan timnya juga melakukan upaya buat memberikan habitat yang baik buat kembang biak badak itu tunggal. Beberapa caranya adalah dengan melayani optimalisasi padang rumput serta memperkaya tanaman pakan badak.

Tentu saja untuk bertahan tumbuh, badak sangat bergantung pada tumbuhan yang menjadi pakannya. Tapi untungnya kondisi tanaman yang menjadi makanan badak di Ujung Kulon masih relatif baik sehingga badak bisa berkembang biak dengan baik.

Anggado juga tak lalai menyampaikan pentingnya melibatkan masyarakat sekitar dalam upaya melestarikan Badak Jawa. Pelibatan ini juga sekaligus bisa mensejahterakan ekonomi masyarakat di kira-kira TNUK.

“Karena jika tidak dibantu masyarakat kita akan kesulitan untuk menjaga badak itu. Karena kawasannya cukup luas, serta yang tahu persis lokasi di situ adalah masyarakat sekitar dan petugas sekitar. Kita sangat menyiasati agar masyarakat lebih sejahtera, di samping jaga badak, masyarakat juga kita sejahterakan untuk ekonominya. ”

Upaya berikutnya dengan dilakukan oleh Balai TNUK untuk melestarikan Badak Jawa adalah secara membuat pagar yang berguna untuk mencegah masuknya hewan ternak masyarakat sekitar ke kawasan Badak Jawa. Pencegahan ini dikarenakan Balai TNUK khawatir hewan ternak warga semacam kerbau membawa penyakit yang mampu ditularkan ke badak.

Selain itu, ada juga pembuatan pagar di luar semenanjung Pucuk Kulon untuk memperluas ruang denyut badak jika terjadi bencana. “Membuat pagar di luar dari jazirah ujung kulon. Karena kita khawatir kalau ada bahaya dari bala alam, tsunami atau dari gunung Krakatau. Maka kita memperluas gaya jelajah badak hingga ke timur dari ujung kulon. Perluasan daerah jelajah badak. ”

Upaya terakhir yang disebutkan Anggodo adalah analisis DNA badak dengan bekerjasama dengan fakultas kedokteran hewan IPB Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri gen dari badak dan sudah didapati bahwa badak yang ada di Ujung Kulon berasal dari minimal 3 syarat keturunan hidup.

Pengkajian ini dilakukan berdasarkan dari kekhawatiran akan adanya perkawinan dari turunan yang sama. Hal ini ditakutkan dapat menyebabkan cacat genetik di dalam fisik badak.

Reporter Magang: Maria Brigitta Jennifer [gil]